Anak dan Orang Tua yang Beruntung

Aturannya begini:
1. Seorang anak bila berbakti kepada orang tuanya, maka ia akan disenangi orang tuanya.
2. Seorang anak bila berhasil disenangi orang tuanya, maka ia akan disenangi Tuhan.
3. Seseorang bila berhasil disenangi Tuhan, maka ia akan disenang-senangkan oleh Tuhan.

Masalahnya adalah apabila klausul berbakti pada Aturan 1 itu tidak atau kurang terpenuhi atau apalagi cuma sedikit lagi terpenuhi oleh anak, lalu kemudian ia tidak jadi disenangi orang tuanya, atau bahkan justru dimurkai orang tuanya, maka akibatnya gawat. Sebab akhirnya ia tidak jadi berstatus disenangi Tuhan. Oleh karena berstatus tidak disenangi Tuhan, maka hidupnya anak itu jadi ruwet.

Jadi kesialan terbesar menjadi seorang anak itu sesungguhnya adalah ketika anak itu memiliki orang tua yang tidak mudah puas atas usahanya berbakti. Dan sebuah kesialan besar bagi orang tua adalah bila punya anak yang sudah mencoba berbakti sekuat tenaga, namun belum juga diakui dan dihargai baktinya.

Sebaliknya, keberuntungan terbesar menjadi seorang anak adalah apabila memiliki orang tua yang gampang puas dan menghargainya. Meskipun ada sedikit-sedikit kekurangannya namun tetap diakui dan bahkan disupport terus menerus. Dan beruntunglah bagi orang tua yang demikian, sebab itu berarti mereka sangat berbakat memiliki anak yang shalih dan mulia hidupnya.

Jadi keputusan atas kesialan atau keberuntungan keduanya itu ada pada keputusan apakah orang tua bersedia menjadi orang yang mudah puas atas bakti anaknya dan lalu mensupport sepenuhnya agar anaknya berhasil mencapai kemuliaan hidup.

Post comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *