Membaca dan menulis merupakan salah satu cara manusia mengabdikan diri kepada Sang Penciptanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S Al Alaq (1-5). Dalam ayat tersebut sangat jelas bahwasanya manusia diperintahkan untuk membaca dan menulis. Iqra’ yang berarti bacalah, dan qalam yang berarti tulisan.

Iqra’ (bacalah) memiliki arti yang luas. Bukan hanya membaca yang tersurat atau dengan kata lain ilmu yang tertuang dalam naskah, melainkan juga membaca yang tersirat. Hamparan alam semesta yang terbentang luas merupakan karya Tuhan yang harus dikagumi dan disyukuri. Mengagumi dan mensyukuri alam semesta adalah salah satu wujud implementasi dari kegiatan membaca. Membaca alam!

Kebiasan membaca harus menyebar di kalangan masyarakat. Membaca menjadi kunci sehingga membuka cakrawala ilmu yang bertebaran di muka bumi ini. Jika seluruh lapisan masyarakat sudah memegang kunci ilmu tersebut, maka buta aksara di negeri kita ini akan berkurang.

Sampai saat ini, sudah berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk membaca? Pertanyaan ini bukan hanya ditujukan kepada remaja sebagai generasi penerus bangsa, tetapi juga ditujukan kepada semua kalangan masyarakat, khususnya guru. Namun kenyataan yang ada ada di negeri kita ini masih terlalu rendah keasadaran atau hobi membaca.

Dalam dunia pendidikan saat ini, hobi membaca di kalangan remaja mengalami penurunan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan. Kurangnya kesadaran tentang arti pentingnya  membaca harus mendapat perhatian yang serius. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai guru. Yakni  membentuk pola pikir yang sehat, dan kepribadian yang cinta buku, serta menjadi motivator bagi mereka.

Untuk menerapkan ketiga hal tersebut, tentu harus dimulai dari diri sendiri. Bagaimana membentuk generasi cinta buku jika guru itu sendiri kurang mencintai buku. Guru adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi budaya membaca pada anak didik. Mereka akan menjadikan guru sebagai teladan.

Kebiasaan membaca pada saat sekarang ini memang kalah saing dengan menonton televisi dan bermain gadget. Seharusnya kondisi seperti ini harus menjadi kecemasan terhadap perkembangan budaya baca-tulis ke depannya. Namun bukan berarti dilarang menonton televisi dan bermain gadget karena melalui media tersebut mereka mendapatkan informasi secara cepat dan aktual. Menonton acara televisi yang tidak bermutu dapat diganti dengan membaca.

Apabila kita sering membaca, maka akan melahirkan kesadaran pada diri sendiri bahwa memang membaca itu sangat bermanfaat. Dari satu bacaan saja, kita akan memperoleh wawasan dan hal positif yang serta merta dapat membentuk kepribadian, moral dan emosional sejak dini. Moral sebuah bangsa itu tergantung pada moral masing-masing individu generasi muda.

Membentuk moral generasi muda bukanlah hal yang mudah. Namun juga bukan hal yang begitu sulit. Butuh usaha yang serius. Salah satunya adalah gerakan gemar membaca. Membaca yang dimaksud adalah bukan sekadar ingin mendapatkan pengetahuan, namun lebih kepada pembentukan moral (karakter).

Dengan membaca, otak akan mengunggah pengetahuan dari yang tidak diketahui menjadi tahu. Membaca menjadikan generasi bangsa terhindar dari risiko kebodohan. Antara orang yang gemar  dengan orang cuek membaca akan melahirkan perbedaan kecerdasan otak. Seperti halnya dengan pisau, makin sering diasah, akan semakin tajam. Membaca ini juga mengasah otak agar terus mendapatkan informasi. Sesuai dengan pernyataan bahwa kecerdasan orang ditentukan oleh volume otaknya. Semakin banyak sambungan sel antarsarafnya, semakin cerdas seseorang. Artinya jika seseorang terus membaca, maka akan semakin menambah jumlah sambungan antarsaraf di otak. Dari satu informasi ditambah dengan informasi yang lain, akhirnya menjadi satu kesatuan pemahaman yang sangat bernilai.

Di era modernisasi saat ini, bahan bacaan yang beredar sangat banyak dan beragam. Olehnya itu, generasi muda harus selektif terhadap bahan bacaan yang ada. Contohnya bahan bacaan yang berbau pornografi.. jangan sampai menjadi insan gemar membaca namun memiliki moral yang rendah.

Selektif dalam memilih bahan bacaan adalah keharusan. Para penerbit memiliki tanggung jawab untuk menerbitkan buku yang memang sesuai dengan budaya kita. Masalah yang dihadapi sekarang adalah kurangnya pengawasan dan asosiasi yang menaungi para penerbit. Olehnya itu, mulai dari diri sendiri, orang tua, guru bahkan pemerintah harus mengawasi dan memilih bahan bacaan yang mendidik, sekalipun itu adalah buku hiburan tetapi tetap harus sesuai dengan budaya Indonesia. Sejatinya buku dan bahan bacaan yang lain adalah mencerdaskan, maka pilihlah bacaan yang memang akan membuat kita cerdas. Membacalah dengan cerdas, membacalah dengan sehat.

Seperti penjelasan sebelumnya bahwa seiring berjalannya waktu, kegiatan membaca memang menjadi budaya yang langka. Rendahnya budaya membaca ini juga berdampak pada jumlah penulis. Karena untuk menjadi penulis, harus banyak membaca. Seseorang bisa berbicara karena ia pernah mendengar. Seseorang bisa menulis karena pernah membaca. Membaca dapat memperkaya pembendaharaan kata.

Salah satu sastrawan terbaik Indonesia, Pramoedya Ananta  Toer dalam pernyataannya “ Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tidak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya”.

Dalam pernyataan tesebut, Pramoedya Ananta Toer mengingatkan kita agar berbuat kebajikan. Beramar ma’ruf nahi munkar melalui tulisan (qalam) artinya menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran melalui media tulis.

Seperti halnya membaca, menulis bukanlah kata yang asing di telinga bagi setiap orang. Aktifitas menggores pena pada kertas atau yang lebih canggih menekan tuts pada keyboard. Dari satu partikel terkecil hingga membentuk satu kata, satu kata menjadi satu kalimat hingga membentuk satu paragraf yang memuat gagasan-gagasan penting.

Menulis adalah berbicara di atas kertas. Apa yang terselubung dalam benaknya, tak mampu disampaikan melalui bahasa lisan, namun dapat disampaikan pada lembaran-lembaran kertas hingga menjadi sebuah buku. Karena pemikiran bisa dilupa bahkan hilang karena keterbatasan manusia, namun buku mampu menyimpan secara utuh dan rapi.

Selain itu, menulis juga dapat mengasah kreatifitas dan daya  pikir serta dapat membentuk karakter jiwa seseorang. Ketika menulis, seseorang harus mampu meramu kata-kata dengan telaten agar dapat menghasilkan tulisan yang baik, yang memberi manfaat kepada pembacanya.

Sudah berapa banyak goresan pena kita yang dinikmati orang banyak? Pertanyaan ini seharusnya  menjadi cambuk bagi kita yang kurang memiliki minat menulis. Sebagai guru, kita harus menulis agar dapat melahirkan generasi muda yang cinta menulis pula. Mulailah dari hal kecil seperti menulis buku harian.

Generasi muda saat ini sebenarnya memilki potensi diri dalam hal menulis. Hanya saja mereka lebih memilih menulisnya\\ di media sosial dari pada menulis di buku harian. Hal yang membuat mereka malas menulis adalah jarangnya mengunjungi perpustakaan. Sedangkan pepustakaan adalah gudangnya ilmu.

Generasi muda adalah generasi harapan bangsa. Jika ingin menjadikan bangsa kita ini sebagai bangsa yang berkarakter, maka generasi muda adalah kuncinya yakni dengan banyak membaca dan menulis. Jadikanlah kedua hal tersebut sebagai bentuk kecintaan kita kepada negara ini. Jadilah pemuda sebagai garda terdepan dalam hal positif. Tumbuhkanlah rasa cinta tanah air dengan menuangkanyya dalam bentuk tulisan yang menarik dan bermanfaat. Ingat, sebuah bangsa dapat dikenali dari bahasa tulis bangsa itu sendiri.

Dengan demikian, marilah kita menjadi insan gemar membaca dan menulis sebagai salah satu cara menentang kedzaliman dan kemungkaran yang ada pada negeri tercinta kita ini. Jadikanlah sebagai tradisi orang berilmu,  inspirasi bagi setiap orang, dan ibadah kepada Sang Pencipta. Jadikanlah hidup ini lebih bermakna

Penulis

Nur Faidah, S.Pd.

Guru SMP IMMIM Putra