Informasi Tidak Dapat Dikonversi Menjadi Pengetahuan Tanpa Pendidikan

Informasi Tidak Dapat Dikonversi Menjadi Pengetahuan Tanpa Pendidikan

Pendidikan adalah sarana yang dengannya seseorang dapat memiliki kehidupan yang bahagia dan sukses. Pendidikan membantu kita mengenali keterampilan dan bakat tersembunyi kita, yang dengannya kita dapat membangun karier, mendapatkan pekerjaan, dan memiliki masa depan yang aman. Dengan demikian, ini membantu kita untuk mencapai ketinggian baru dalam kehidupan. Mengapa pendidikan sangat penting? karena itu adalah bagian dari kehidupan kita. Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Tinggi sangat penting untuk kesuksesan dalam hidup. Pendidikan Tinggi penting untuk pengembangan pribadi, sosial dan ekonomi bangsa. Pendidikan penting untuk hidup dengan kebahagiaan dan kemakmuran.

Pendidikan membantu seseorang untuk mendapatkan pengetahuan dan meningkatkan tingkat kepercayaan diri sepanjang hidup. Pendidikan memainkan peran besar dalam pertumbuhan karier kita dan juga dalam pertumbuhan pribadi. Tidak ada batasan; orang-orang dari segala kelompok umur dapat memperoleh pendidikan kapan saja. Pendidikan membantu kita menentukan hal-hal baik dan buruk. Orang yang berpendidikan memiliki pendidikan yang baik menjadi warga negara yang baik di masyarakat. Kita semua ingin melihat anak-anak kita menuju kesuksesan yang hanya dimungkinkan melalui pendidikan yang baik dan layak. Setiap orang tua memberi tahu anak-anak mereka sejak kecil tentang pentingnya pendidikan dalam kehidupan dan semua manfaat pendidikan untuk membuat pikiran mereka menuju studi yang lebih baik di masa depan.

Tidak ada yang bisa dicapai dalam hidup jika kita tidak memiliki iman pada diri kita sendiri. Pendidikan memainkan peran yang sangat penting dalam menumbuhkan kepercayaan diri di dalam diri kita, sehingga kita dapat menjadi mandiri, berkomunikasi secara efisien dengan orang lain, dan mengatasi berbagai kesulitan yang menghalangi kita untuk mencapai tujuan kita. Seorang individu yang berpendidikan berusaha memahami segala sesuatu yang tidak mereka ketahui, bukannya mengikuti orang lain secara membabi buta. Mereka mempertanyakan integritas kesalahpahaman dan mencoba mencari alternatif logis untuk menjelaskan kebenaran di belakang mereka. Dengan demikian, pendidikan membantu seseorang untuk berpikir logis dan menolak fakta palsu.

Orang berdebat tentang masalah apakah pendidikan adalah satu-satunya hal yang memberi pengetahuan. Ada yang mengatakan pendidikan adalah proses mendapatkan informasi tentang dunia sekitarnya sementara pengetahuan adalah sesuatu yang sangat berbeda. Mereka benar. Tetapi sekali lagi, informasi tidak dapat dikonversi menjadi pengetahuan tanpa pendidikan. Pendidikan membuat kita mampu menafsirkan berbagai hal, antara lain. Ini bukan hanya tentang pelajaran di buku pelajaran. Ini tentang pelajaran kehidupan.

Penulis
Sarlin, S.Pd., M.Pd
Mahasiswa Program Doktor (S.3) UNM & Kepala SMA / MA Pesantren IMMIM Putra Makassar

Misi Pencerdasan Dimulai dari Membaca

Misi Pencerdasan Dimulai dari Membaca

Didedikasikan untuk mereka yang masih mau membaca

Jangan engkau penjarakan ilmu dibalik angka dan abjad-abjad, ilmu untuk disebar-luaskan.

Ijazah bisa dibeli, nilai bisa dimanipulasi, tapi ilmu diraih hanya dengan dipelajari

Bukan ditampung mengisi perpustakaan mini,
Atau beberapa bait menarik dikutip demi melabeli argumentasi

Saya yakin-seyakin-yakinnya, bukan predikat sebagai penulis yang mereka ingin raih dalam berkarya, tapi ada kegelisahan yang harus dituntaskan

Gelisah bila berjuta karya hebat itu tak dibaca malah dibiarkan terkapar oleh semangat yang sedang sekarat.

Mengapa begtu takut dengan membaca, bukankah baca jauh lebih enteng dibanding menulis, dengan membaca engkau bisa menyerap dengan mudah apa yang orang tulis dengan susah

mereka harus resah, karena tulisan adalah luapan keresahan sebagaimana tulisan sederhana ini pula ditulis, untuk membaca engkau tak perlukan itu

boleh jadi butuh 1 hingga 2 tahun untuk menulis, tapi hanya butuh 1 sampe dua hari untuk membacanya, Enteng bukan? jadi pembaca tak perlu banting kepala.

Jangan jadikan buku sebagai hantu, ia tak semenakutkan itu, bukan pula ia sebagai musuh yang menciderai, justeru fikiranmu terciderai bila ia kau abaikan

Buku memang tak dapat berbuat apa-apa untukmu, tapi selalu bermula dari buku engkau dapat bertindak rasional, tanpanya tindakan menjadi emosional.

Ia hanyalah benda mati, tapi engkau dapat membuatnya hidup dalam dirimu dan dalam diri orang lain

Pertama-tama, membacalah, lalu menulislah, sebarkanlah ilmu itu, berdiskusilah, kesemuanya itu adalah perwujudan fikir yang masih ada dalam diri, Tanpa fikir engkau laksan raga kehilangan jiwa, manusia tanpa kepala tanpil sebagai mayat berjalan

Membacalah sebelum kau menulis, mereka yang banyak menulis adalah mereka yang sudah banyak membaca

Lalu diskusikanlah kembali agar ia tak jadi bacaan yang mati

Berdiskusi untuk mnyebarluaskan fikiran, bukan demi eksistensial

Lalu tuliskanlah kembali,
Tuliskan apa yang ekngkau fikirkan agar orang dapat ikut memikirkan fikiranmu lewat apa yang kau tuliskan

Moga-moga sejengkal usaha kecil itu dapat memberi perubahan dan pencerahan

Hanya mereka yang tercerahkan yang dapat memeberi pencerahan,
Hanya mereka yang termanusiakan yang dapat memanusiakan,
Mereka yang paham agamalah yang dapat memahamkan agama.

Apa yang dikatakan thomas bartholin bukan untuk retoris, tapi harus saya kutip karena didalamnya ada hikmah,

Tanpa buku tuhanpun diam, sainpun macet, sastrapun bisu, maka segalanya akan dirundung kegelapan

agamaku mengajarkan ‘hikmah itu adalah barang hilangnya orang mukmin, ambillah ia darimanapun ia berasal

Buku tak dapat memberi perubahan, tapi selalu dari hasil baca buku perubahan itu terinspirasi.

Cita-cita final dari itu semua adalah perubahan,
Bukan hanya merubah keadaan, tapi merubah demi tatanan yang lebih baik

Tatanan tanpa kebodohan, tatanan tanpa kemunafikan, anti penindasan, dan berbagai macam jenis kezoliman

Semua bisa terwujud berawal dari pencerdasan

Penulis
Abdul Ghani
Wali Thalib Pesantren IMMIM Putra Makassar

Pentingnya Pengembangan Literasi Santri

Pentingnya Pengembangan Literasi Santri

Kegiatan membaca adalah sebuah aktivitas untuk membuka jendela dunia. Membaca adalah salah satu usaha untuk menambah wawasan dan pengetahuan seseorang tentang hal-hal di luar sana yang belum pernah ditemukan di lingkungan tempat  seseorang tersebut tinggal.

Sebagaimana telah dijelaskan juga dalam Alquran yang memuat wahyu pertama yang berbunyi “iqra” (bacalah) yang terdapat pada surah al-Alaq. Perintah membaca ada dalam wahyu pertama walaupun ditujukan kepada nabi Muhammad SAW yang ummi. Alquran, selain sebagai kitab suci umat Islam, juga merupakan salah satu sumber utama ilmu pengetahuan yang dapat menjawab berbagai masalah yang tengah dihadapi para cendekiawan.

Membaca dan menulis itu penting bukan hanya bagi masyarakat terdidik yang hendak dibangun Alquran, melainkan juga untuk menciptakan kebudayaan, menghasilkan pengetahuan anyar, dan membangun satu peradaban dinamis yang maju. Membaca dan menulis adalah perangkat dasar yang telah diajarkan Tuhan kepada kita untuk berkomunikasi (Q.S al-Rahman [55]:4) dan menanamkan pemikiran kritis kepada manusia.

Tanpa aktivitas membaca tidak akan ada pemikiran besar yang terlahir ke dunia. Aktivitas membaca tidak hanya berupa membaca karya-karya tulisan dalam bentuk teks, tapi juga merupakan pembacaan atas berbagai realita yang terjadi sehari-hari. Namun, untuk mampu membaca hal-hal yang terjadi di sekitar, dibutuhkan sebuah keahlian khusus yang tidak didapatkan begitu saja. Butuh latihan secara terus-menerus dan berkelanjutan.

Salah satu jalan yang bisa digunakan untuk mampu membaca realitas adalah dengan membaca beragam teks bacaan yang jumlahnya sangat banyak. Dengan membaca sebuah karya, kita bisa membaca pemikiran orang lain yang kita anggap luar biasa. Orang-orang yang berpengaruh dalam bidangnya pasti dikelilingi  oleh bahan bacaan yang tak terhitung jumlahnya.

Dari sebuah bacaan, kita bisa belajar bagaimana pola pikir orang-orang yang  berada jauh dari jangkauan kita. Dari bacaan pulalah kita memelajari peradaban negara-negara maju di dunia. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya sebuah bangsa yang tidak menumbuhkembangkan bacaan sebagai salah satu proses kegiatan yang inti. Tanpa aktivitas membaca, mustahil sebuah bangsa bisa mendapat predikat sebagai salah satu negara maju di dunia.

Mengapa harus pesantren?
Dinamika kehidupan pesantren yang dengan sistem asrama yang hidup di bawah bimbingan ustaz atau pembina selama 24 jam sehari seharusnya memberikan keunggulan yang lebih baik  bagi pihak pesantren dalam hal budaya membaca (literasi) dibandingkan dengan sistem sekolah umum. Namun apakah gerakan literasi di pesantren benar-benar sudah berada pada arahnya?

Sulit untuk mengatakan “ya” secara meyakinkan. Seperti yang kita lihat di lapangan, gerakan literasi di pesantren, secara umum, masih sangat kurang. Dalam sehari hari, berapa persen santri yang membaca sumber bacaan selain buku teks pelajaran? Memang ada tapi sedikit jumlah santri yang dengan senang hati mengunjungi perpustakaan dengan niat ingin menambah wawasan pengetahuan dengan membaca buku selain buku teks pelajaran.

Dengan menyaksikan kondisi tersebut di atas, gerakan pengembangan literasi sangat dibutuhkan di pesantren dalam rangka mengembangkan wawasan pengetahuan santri. Jika gerakan literasi digalakkan secara masif di pesantren, bukanlah suatu yang tidak mungkin negeri ini akan menjadi lebih baik.

Gerakan literasi ditandai dengan dua kegiatan inti, yakni membaca dan menulis. Perpustakaan Ibnu Rusyd Pesantren IMMIM Putra, dalam upayanya membangun lingkungan santri yang gemar membaca dan menulis, mengadakan berbagai usaha dan kegiatan yang diharapkan dapat memicu dan memacu aktivitas membaca dan menulis di kalangan santri. Di antara usaha dan kegiatan tersebut adalah:

  1. Kegiatan berkunjung ke berbagai perpustakaan.
  2. Membentuk kader pustakawan yang digerakkan oleh santri sendiri.
  3. Mendesain perpustakaan agar menjadi tempat yang nyaman untuk kegiatan membaca, menulis dan belajar-mengajar.
  4. Kunjungan ke pameran buku.
  5. Melakukan sosialisasi secara terus menerus tentang manfaat membaca dan menulis.
  6. Membuat majalah dinding (MADING) yang memuat berbagai informasi terbaru sebagai wujud nyata penerapan kegiatan membaca dan menulis.
  7. Para pengelola perpustakaan telah mengikuti berbagai  kegiatan seminar serta kegiatan lain yang menyangkut literasi dalam upaya membantu pengembangan perpustakaan ke depan.

Berbagai kegiatan yang telah dan terus-menerus dilakukan dan dikembangkan oleh Perpustakaan Ibnu Rusyd di atas diharapkan dapat membuat para santri memiliki kemampuan menambah dan menyaring informasi  sehingga mereka bisa memiliki wawasan yang luas yang bermanfaat bagi diri mereka dan menjadikan mereka sebagai insan kamil dan manusia Indonesia seutuhnya, berkarya cerdas, dan berakhlakul karimah, di mana pun kelak mereka berada.

Penulis:
Sukmawaty,S.Hum
Pustakawan Pesantren IMMIM Putra Makassar

Manusia Teknologis

Manusia Teknologis

Dalam sebuah forum diskusi, diantara ketiga narasumber, saya sendiri yang paling muda, disamping diberi kesempatan untuk menyampaikan sepatah-duapatah kata, sesungguhnya sambil belajar juga dari kedua narasumber. Dalam hierarki akademis tentu sangat berjarak, bang fajlur adalah dosen muda Unhas yang sudah nulis 21 buku, dan bang aksa adalah dosen muda UIN yang sangat menginspirasi. Karena ini adalah forum organisasi daerah sekaligus Untuk menyikapi kecanggungan karena Ta’zim sama beliau berdua, maka saya lebih senang menilainya dalam konteks persaudaraan, sebagai saudara menjadi sangat lumrah jika ada yang tampil sebagai kakak dan saya sendiri sebagai adik.

Yang sempat saya sampaikan ialah pandangan kritis atas realita pemuda dalam konteks sosial budaya yang hari ini menjadi manusia setengah robot, separuh dari sisi kemanusiaannya telah hilang ditelan arus modernitas, sementara separuhnya lagi tersesat terpenjara dalam diri tak tau arah. Kita adalah manusia teknologis, peran kita sebagai manusia tak penting lagi, yang penting adalah peran teknologi, sehingga ini turut mengkosntruk pandangan bahwa manusia dianggap bernilai kalau telah memiliki sejumlah alat yang canggih dengan jumlah yang banyak. Harkat dan martabat tidak lagi atas dasar kemanusiaan melainkan atas dasar barang, manusia menjadi tak lebih berharga dari sebuah barang. Ini berdampak kurang baik bagi cara bersikap. Mereka yang otaknya lumayan namun karena terbatas secara materi terpaksa dibuat minder sementara manusia berotak dangkal tampil percaya diri bermodal sejumlah barang.

Manusia semakin teralienasi dari kemanusiaannya, dimana tujuannya telah dikondisikan oleh situasi. Kesejukan alam bukan lagi sebagai tempat untuk dinikmati karena ia telah berubah menjadi sekdar tempat untuk selfie, tak sedikit orang kehilangan nyawa karena tempat selfie yang ekstrim. Tak sah ke Jakarta bila belum mengunjungi monas dan tak sah ada dimonas jika belum diposting, demi mendapatkan sejumlah like dan komentar. Gaya seperti ini dalam bahasa agama disebut riya, orang Sulawesi menyebutnya mau dibilang, bahasa formalnya adalah pamer. Kecanggihan teknologi bukan lagi sebagai sarana pembebasan, handphone bukan lagi sekedar membebaskan atas keterbatasan komunikasi, kendaraan bukan hanya membebaskan dari keterbatasan jarak, tapi ia telah melampaui batas fungsinya. Manusia sibuk melayani kemajuan, bukan kemajuan yang melayani manusia, merasa sangat menderita bila tiga jam meninggalkan Hpnya, tiga hari ia merasa kehilangan dunia dan seisinya.

Diakui atau tidak, hari ini bukan lagi kebutuhan nyata manusia yang menentukan produksi, tapi kebutuhan diciptakan supaya hasil produksi bisa laku, yang bekerja merekayasa kebutuhan manusia adalah dunia industri, dipamerkanlah sejumlah kendaraan yang selalu diperbaharui setiap tahunnya melalui media, ini sangat pas dengan gaya konsumerisme kita yang suka bersosial media, merasa butuh untuk memiliki keluaran terbaru, ketika perasaan itu muncul maka rekayasa dunia industri sudah berhasil, anda telah masuk dalam jebakan. Nenek moyang kita dulu merasa cukup-cukup saja berpindah dari satu tempat ke tempat yang jauh dengan berjalan kaki, tak ada yang mengeluh, justru persaudaraannya menjadi sangat harmonis karena yang terjalin adalah komunikasi langsung, hari ini komunikasi yang berjarak yang terjadi adalah hoax, berita dengan judul positif jarang dibaca, judul negatif langsung dishare tanpa baca, yang tercipta hanyalah fitnah demi fitnah.

Dunia industri menawarkan kebahagiaan yang semu. Bahagia yang digantungkan pada banyaknya benda, padahal ketenangan jiwa tak bisa diraih dan diukur secara materealistik. Orang yang hampir tak punyai apa-apa boleh jadi jauh lebih cukup dari mereka yang berkecukupan. Anehnya adalah yang berkecukupan kadang masih tak merasa cukup juga. Biasanya ini yang merusak tatanan Negeri. Manusia selalu bekerja bukan atas dasar kebutuhan, melainkan atas dasar kepuasan. Tak puas bila tak serakah, toh hidup Cuma sekali mengapa tak dinikmati.

Manusia kini semakin terisolasi dari manusia dan kemanusiaan. Kemanusiaan semakin berjarak darinya dimana benda lebih utama. Terisolasinya dari manusia ialah betul dalam satu situasai raganya sedang bersama manusia tapi jiwanya melayang dibalik layar sosial media. Merasa punya teman ribuan di alam ilusi tapi saat ia angkat kepala hampir tak ada yang mengenalinya, bagaimana tidak, gambar yang dipajang begitu gagah rupawan nan cantik jelita putih tanpa noda, bila tiba saatnya berpapasan di alam nyata ia hampir tak dikenali ternyata warnanya bagai pelangi diawan mendung. Kelancaran sarana komunikasi tak murni melancarkan interaksi inidividu. Dampak yang lebih nyata ialah manusia semakin terisolasi.

Yang ahirnya manusia hanyalah pelayan bagi mesin-mesin, manusia menjadi budak mesinnya jadi raja, inilah generasi kami ! dan kami bangga.!

Tulisan ini mungkin Gokil, tapi akal harus jujur terhadap kenyataan. Generasi butuh untuk diobati, karena masih banyak tugas kepemudan dan kemanusiaan yg lebih butuh untuk diseriusi.

Penulis
Abdul Ghani
Wali Thalib Pesantren IMMIM Putra Makassar

Media dan Teknologi Pembelajaran Perspektif Al-Qur’an

Media dan Teknologi Pembelajaran Perspektif Al-Qur’an

Media memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Olehnya itu, pendidik harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media maupun teknologi pembelajaran. Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Azhar Arsyad: 2011).

Adapun kata pembelajaran adalah memiliki akar kata “belajar”. Belajar yaitu kegiatan berproses yang memiliki unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis jenjang pendidikan. Disamping itu, ada pula orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis (Wahab Rosyidi:2009).

Kata teknologi berasal dari bahasa Latin tekne (bahasa inggris art) dan logos berarti ilmu. Dalam bahasa Yunani teknologi berasal dari kata technologia yang menurut Webster Dictionary berarti systematic treatment atau penanganan sesuatu secara sistematis, sedangkan tecne sebagai dasar teknologi berarti art, skill, science atau keahlian, keterampilan, ilmu.

Ayat yang terkait dengan media dan teknologi pembelajaran terdapat pada QS Al-Alaq/96: 3-4.

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ 

Terjemahnya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam.

Ayat keempat dari Q.S. Al-‘Alaq terdapat kata ( القلم). Menurut Al-Asfahani berarti potongan dari suatu yang agak keras seperti kuku dan kayu, serta secara khusus digunakan untuk menulis (pena). Sedangkan menurut tafsir Al-Maraghi ayat tersebut menjelaskan bahwa Dia-lah Allah yang menjadikan kalam sebagai media yang digunakan manusia untuk memahami sesuatu, sebagaimana mereka memahaminya melalui ucapan.

Lebih jelas, beliau menjelaskan bahwa al-qalam itu adalah alat yang keras dan tidak mengandung unsur kehidupan alias benda mati, dan tidak pula mengandung unsur pemahaman. Namun digunakannya al-qalam untuk memahami sesuatu bagi Allah bukanlah masalah yang sulit. Dan dengan bantuan al-qalam ini pula manusia dapat memahami masalah yang sulit. Allah memiliki kekuasaan untuk menjadikan seseorang sebagai pembaca yang baik. Penghubung yang memiliki pengetahuan sehingga ia menjadi manusia yang sempurna. Pada perkembangan selanjutnya, pengertian al-qalam ini tidak terbatas hanya pada alat tulis yang hanya bisa digunakan oleh masyarakat tradisional di pesantren-pesantren. Namun secara subtansial al-qalam ini dapat menampung seluruh pengertian yang berkaitan dengan segala sesuatu sebagai alat perekam, syuting, film dan berbagai peralatan ini, selanjutnya terkait dengan bidang teknologi pendidikan.

Dengan demikian, media pembelajaran memiliki tiga peranan, yaitu peran sebagai penarik perhatian (intentional role), peran komunikasi (communication role) dan peran ingatan/penyimpanan (retention role) (Umi Rosyidah, dkk :2008).  Oleh karena itu, para pendidik harus mengetahui dan memahami betapa pentingnya penggunaan media dalam pandangan Islam. karena dengan menggunakan media yang tepat, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

Penulis:
Ustadz Supriadi
Dosen UIN Alauddin, Pembina Pesantren IMMIM Putra Makassar

Santri IMMIM Membuat Prototype Pembangkit Listrik Berbasis Thermo Electric

Santri IMMIM Membuat Prototype Pembangkit Listrik Berbasis Thermo Electric

Di era yang penuh dengan kemodernan ini, tentu saja kita tidak dapat terlepas dari yang namanya teknologi di dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari fenomena tersebut, sadarkah kita bahwa  teknologi yang kita lihat selama ini ternyata membutuhkan sesuatu yang sangat penting untuk dapat beroperasi ialah energi listrik. Di negara kita sendiri Indonesia, umumnya produksi listrik dihasilkan dengan menggunakan tenaga air (PLTA), tenaga diesel (PLTD), dan tenaga uap (PLTU), maupun tenaga nuklir (PLTN). Akan tetapi, konsumsi kebutuhan listrik masih besar tetapi tidak selamanya kebutuhan energi listrik tersebut dapat terus tercukupi. Oleh karena itu, pemanfaatan sumber energi terbarukan menjadi solusi di masa mendatang untuk pemenuhan kebutuhan energi yang semakin lama semakin besar. Salah satunya adalah dengan pemanfaatan energi listrik yang dihasilkan  oleh Energi Panas.

Dalam karya ini, dibuat sebuah prototype teknologi yang berkonsep thermo electric generator yang dapat memanfaatkan energi panas yang dapat dikonversi menjadi energi listrik minimal listriknya dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil analisis, teknologi ini dapat menghasilkan tegangan listrik yang dikonversi menjadi 5V sehingga dapat digunakan dalam men-charger alat elektronik seperti handphone. Maka konsep thermo electric generator ini dapat diterapkan sebagai pembangkit listrik dengan skala yang kecil dan bisa membantu untuk mengatasi kehabisan batterai misal pada handphone yang dimana kedepannya teknologi ini dapat diaplikasikan dengan memanfaatkan energi panas yang terbuang/dikeluarkan oleh knalpot kendaraan bermotor.