Fadeli Luran, Merangkai Iman Umat

Fadeli Luran, Merangkai Iman Umat

LEGENDA datang silih berganti. Berkelana dengan ide dan perjuangan. Meninggalkan karya dan inspirasi. Warisan mereka berlanglang, melintas zaman serta generasi. Tokoh-tokoh berlabel the Great senantiasa menancapkan citra yang kuat untuk dikenang. Sebab, mereka mengukir sukses cemerlang dengan gelimang prestasi eksplosif. Para legenda mempersembahkan potensi demi masa depan. Planet ini seolah tidak bisa berotasi tanpa mereka.

Dari sejumlah legenda yang lahir di Sulawesi Selatan, sosok Fadeli Luran tergolong figur yang acap dibincangkan penuh takzim. Visinya menjadi pilar perubahan positif. Segenap aksesori pencitraannya cuma karya dan inspirasi. Warisan Fadeli Luran berupa Pesantren Modern IMMIM tak lapuk diterpa inovasi teknologi, fluktuasi mata uang, dinamika sosial serta modernitas budaya.

Fadeli Luran dan IMMIM (Ikatan Masjid Musalla Indonesia Muttahidah), ibarat koin. Kedua sisi berbeda, tetapi, nilai sama. Fadeli Luran tidak bisa dilepaskan dari IMMIM. Begitu pun sebaliknya. IMMIM tergolong pusaka supremasi Fadeli Luran sebagai tokoh historis. IMMIM tak pudar diterpa zaman, tak padam ditembus peradaban. Tetap kukuh di abad 21.

Die Hard

Sebelum dan sesudah kehadiran IMMIM, terlihat sosok Fadeli Luran yang unik. Motivasinya setegar karang sekaligus pantang menyerah. Di garis finish hidupnya, ia dikenal sebagai orang kampung yang menjelma spesies super. Idenya gemilang untuk disorot sejarah. Alhasil, namanya bertabur tabik takzim.

Fadeli Luran adalah die hard (pantang mengalah) seperti sosok Letnan John McClane (Bruce Willis) di film Die Hard. Di sisi lain, Fadeli Luran juga figur yang tabah. Ia tahu bagaimana menghayati sifat sabar. Ia difitnah, diburu, disiksa serta dipenjarakan. Semua ada ujungnya, batasnya dan akhirnya. Saat kesabaran terus teruji, semuanya pun berubah berkat perputaran nasib. Keberuntungan kemudian berpihak kepada insan sabar. Fadeli Luran menggapai elemen eksistensi hidup yang selezat kurma Ajwa. Semua mendadak indah sebagaimana pepatah Arab: “man shabara zhafira” (orang sabar pasti berjaya).

Bertaruh Salam

Fadeli Luran serta Muhammad Jusuf Kalla pernah bertaruh tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr Daoed Joesoef. Keduanya bertaruh tentang salam “Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”. Bila Daoed Joesoef mengucapkan salam, berarti Fadeli Luran yang menang. Tentu saja, hadiahnya sekedar kebanggaan.

Usai upacara Dies Natalis Universitas Hasanuddin, Daoed Joesoef pun bergegas ke Bandara Hasanuddin di Mandai. Ketika akan naik ke pesawat. Fadeli Luran menjabat tangan sang menteri sambil mengucap salam: “Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Mendengar itu, Daoed Joesoef hanya tersenyum. Pendiri IMMIM itu mengulang lagi. Jawaban Daoed Joesoef tetap tidak ada kecuali gumam kecil. Gelagat yang diperlihatkan tokoh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) tersebut membuat Fadeli Luran memegang erat tangan Daoed Joesoef seraya meninggikan suara. “Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh”.

Suasana yang menimbulkan keterpaksaan itu, mendorong Daoed Joesoef membalas salam Fadeli Luran. Kalau tidak, jelas tangan Mendikbud tak bakal dilepas.

Saat terjadi demonstrasi helm yang banyak menelan korban jiwa, massa mengerubungi rumah Fadeli Luran di Jalan Lanto Daeng Pasewang No 55. Pasalnya, 1 November 1987 pada pukul 20.30, seorang penyiar TVRI Ujung Pandang, mengutip pernyataannya bahwa “memakai helm wajib hukumnya”. Mahasiswa yang marah atas tragedi helm, akhirnya berduyun-duyun mengerubuti rumahnya. Padahal, Fadeli Luran tidak pernah melontarkan fatwa bahwa “memakai helm wajib hukumnya”.

Ajal Menjemput

FADELI Luran wafat pada Ahad, 1 Maret 1992. Ia menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta. Menjelang ajalnya, Fadeli Luran cuma mampu mengunyah empat sendok bubur yang diberikan Siti Rahmah, istri yang setia menemaninya dalam suka dan duka.

Ketika seteguk air membasahi tenggorakannya, Fadeli Luran tiba-tiba batuk. Mendadak di sekelilingnya berubah gelap. Suster kemudian membantu detak jantungnya dengan alat pernafasan. Di layar monitor elektrokardiogram (EKG), terlihat grafik denyut jantungnya redup menjadi garis tipis lurus pertanda kematian mulai menyongsong. Tangannya yang lemah lalu mencabut selang pernafasan yang melengket di hidung. Dengan suara pelan, Fadeli Luran lantas menyebut asma Tuhan, “Allah…”.

Detik-detik mencekam tersebut berakhir dengan terhentinya detak jantung. Nafas pun putus. Legenda itu akhirnya menemui ujung perjalanan. Ia pamit dari kefanaan di usia senja setelah mengukir momen-momen indah dalam hidupnya. Innalillahi wa innailaihi rajiun.

Bukan TMP

Pukul 07.30. WIB, Fadeli Luran meninggalkan segala hal yang telah dipejuangkan. Pengagum Bung Hatta yang banyak meninggalkan monumen Islam tersebut, tak kuasa menahan ajalnya.

Kesehatan Fadeli Luran menurun sejak operasi penyakit penyempitan pembuluh darah yang terdapat di kakinya di Rumah Sakit Academisch Medisch Centrum (AMC) di Universiteit van Amsterdam, Belanda pada 1987. Selain menderita katarak, ia pun mengidap lever.

Fadeli Luran wafat penuh kehormatan. Tidak meninggalkan cemooh. Tak ada lidah-lidah bergunjing jahat atas martabatnya di panggung sejarah. Ia petarung kehidupan yang bekerja sampai tersungkur roboh. Ia dimuliakan berkat karyanya yang abadi di panggung sejarah. Fadeli Luran adalah mitos yang mendorong kualitas positif umat.

Ketika jenazah disemayamkan, Rahmah dihampiri petugas militer. Petugas menyampaikan bahwa seluruh keperluan penguburan di Taman Makam Pahlawan (TMP) segera disiapkan.

“Bapak tidak pernah menyebut TMP”, jelas Rahmah.

Satu jam berikutnya, petugas lain ke rumah duka. Ia hendak memastikan di mana Fadeli Luran akan dimakamkan. “TMP atau Pekuburan Islam Panaikang”. Rahmah tegas memilih pekuburan Islam karena tidak ada wasiat perihal TMP.

Presiden Soeharto saat bersilaturahmi dengan ulama se-Sulawesi Selatan yang dipimpin Fadeli Luran pada tahun 1970

Brilian

SEMASA hidupnya, sosok pria tinggi besar tersebut merupakan figur pemimpin yang brilian. Arkian, ia sanggup menjabat berbagai posisi krusial di sejumlah organisasi. Di samping Ketua Umum DPP IMMIM, Fadeli Luran juga diangkat menjadi Ketua Orpeha (Organisasi Persaudaraan Haji) maupun anggota Dewan Penyantun Unhas, Universitas Negeri Makassar, Universitas Muhammadiyah, UIN Alauddin serta Universitas Bosowa.

Pada tahun 60-an, Fadeli Luran menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong (DPRD-GR) Kotapraja Makassar. Kurun waktu 1965-1967, ia menjabat Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI). Pada 1967, Fadeli Luran yang punya kualitas kepribadian individu diserahi tugas oleh Andi Pangerang Pettarani sebagai Ketua Yayasan Badan Wakaf UMI Makassar. Bahkan, ia pun pernah ditunjuk sebagai penasehat lembaga drama. Ini membuktikan bahwa Fadeli Luran cakap dalam aneka pokok bahasan. Sebab, mengutamakan ketelitian logika. Berpikir, sesudah itu beraksi.

Satyalencana

Lembaran atribut Fadeli Luran, marak pula dengan pelbagai prestasi di kemiliteran. Kendati mengakhiri karier ketentaraannya dengan pangkat Letnan II, namun, ia pernah mengabdi sebagai Wakil Komandan Batalyon.
Di Kabapaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Fadeli Luran pernah menjabat komandan kompi. Sedangkan surat penghargaan yang diperolehnya ialah Satyalencana Bhakti 17 Agustus 1958, Bintang Gerilya 10 November 1958, Satyalencana Peristiwa Aksi Militer Kesatu 17 Agustus 1958 dan Satyalencana Peristiwa Aksi Militer Kedua 17 Agustus 1958.

Pada 1980, Fadeli Luran bersama Jusuf Kalla, AT Salama serta H Ince Muhammad Ibrahim, membangun Rumah Sakit Faisal. Rumah sakit yang dibiayai Kerajaan Arab Saudi tersebut, terletak di kawasan Gunungsari seluas lima hektar. Dalam menopang keberadaannya, dibentuk pula Yayasan Rumah Sakit Faisal (Yasrif).

Secercah harapan terlintas untuk membangun rumah sakit ketika Duta Besar Saudi Arabia Sheikh Bakr Alkhamais menjalin ukhuwah dengan Fadeli Luran. Niat luhur tersebut akhirnya mendapat lampu hijau seterang kristal dari Kerajaan Arab Saudi. Selain sebagai pionir pembangunan serta Ketua Yasrif, Fadeli Luran juga mendirikan Apotik Farida Rahmah pada 1980.

Murid HAMKA

Sekalipun banyak berkecimpung di bidang pendidikan, namun, pendidikan formal Fadeli Luran hanya kelas III Sekolah Dasar. Jenjang pendidikan seumur jagung itu, justru tidak menghalanginya tampil meng-SK-kan lebih seribu sarjana.

Fadeli Luran bukan cuma fasih bergelut di dunia pendidikan, ia pun aktif dalam berbagai kegiatan Islam. Hingga, masyarakat menyebutnya ulama. Fadeli Luran menampik predikat tersebut. Ia lebih suka dirinya dianggap sebagai zuama (pemimpin informal) yang membina organisasi kaum Muslim. Padahal, tempat Fadeli Luran mengkaji ilmu keislaman adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) dan Mohammad Natsir. Buya Hamka sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, malahan menganggapnya sebagai anak sendiri.

Wapres RI Ke 5 Sudarmono saat melakukan kunjungan di Pondok Pesantren IMMIM

Kompilasi Pujian

KISAH Fadeli Luran seolah koleksi hikayat dari kompilasi para legenda Tanah Air. Sikap dan tindakannya memimpin organisasi, terekam dalam memori kolektif. Mantan Walikota Makassar H Muhammad Daeng Patompo, memujinya.

“Kepemimpinan Fadeli Luran sulit ditemukan saat ini. Cuma sedikit orang yang bisa memiliki kharisma seperti Fadeli Luran. Dia itu manusia ngotot. Kengototannya, karena, bisa menghimpun umat Islam untuk ikut dalam masjid. Apalagi, Fadeli Luran tidak pandang siang atau malam, yang jelas ia selalu berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi”.

H Ilham Aliem Bachrie, tokoh pemuda era 90-an, melihat figur Fadeli Luran sebagai insan agamis.

“Rasa cinta kepada agamanya sangat tinggi. Susah mencari orang seperti Fadeli Luran. Sebab, ia ibarat gabungan tiga orang. Idenya cemerlang serta mudah berkomunikasi dengan pelbagai golongan”.

“Fadeli Luran itu tegas sekaligus bijaksana. Dalam beberapa hal, ciri leadership yang dimiliki bertipe paternalis. Di sisi lain, juga demokratis. Fadeli Luran ibarat sebuah ungkapan, katakan yang benar walau pahit”. Begitu tutur Baharuddin Daeng Massikki tentang Fadeli Luran.

A Hamid Aly, rekannya saat masih kecil mengungkap kalau Fadeli Luran punya keistimewaan.

“Ia memang sudah dikaruniai oleh Tuhan berupa ilham dan ilmu”, tegas Hamid Aly. Pernyataan ini menegaskan bahwa peran Fadeli Luran yang mutlak sudah ditakdirkan.

Fadeli Luran Award

Waktu berputar, zaman berubah, tetapi, legenda tak habis dikenang. Kini, tiap tahun diadakan pemberian Fadeli Luran Award. Penghargaan ini diberikan kepada mubalig-mubalig agung Indonesia. Penerima Fadeli Luran Award antara lain Prof Dr M Quraish Shihab dan Prof Dr Nasaruddin Umar.

Nama Fadeli Luran terus tergiang-nyaring. Di Pangkep, namanya diabadikan sebagai penanda pengguna lalu-lintas yang bolak-balik hilir-mudik. Jalan Fadeli Luran terletak di Jalan Poros Minasate’ne. Jalan Fadeli Luran merupakan akses alternatif bagi para karyawan yang berdomisili di Makassar, tetapi, bekerja di Pangkep.

Riwayat Fadeli Luran mengindikasikan nobody to somebody. From nothing to something. From zero to hero. Inilah yang menginspirasi sejumlah santri untuk menerbitkan buku bertajuk Fadeli Luran di Mata 100 Santri.

Haji Fedeli Luran Bersama Panglima ABRI Edi Sudrajat

Joki Tenrisannae

FADELI Luran mengeak pertama kali di Dusun Bampu, Desa Talaga, Enrekang. Ia lahir dari rahim Haji Rawe pada 2 Januari 1922. Fadeli Luran merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Mereka adalah Misa, Fadeli, Kasim, Mastura, Hamida dan Sawedi. Luran, ayahnya seorang penjual ikan di pasar kabupaten yang juga petani garapan.

Bayi montok tersebut, tumbuh menjadi anak pemberani. Saat di SD, keberaniannya menyentuh hati Tuan Guru Sahibe, kepala sekolahnya. Mentalnya sudah siap jadi singa saat masih bocah. Hingga, ia dipercaya menjadi joki kuda Sahibe yang bernama Tenrisannae (Tak Terduga). Fadeli Luran yang menunggang Tenrisannae selalu juara satu. Mereka berlomba di pacuan kuda yang terletak di kampung Patili. Kepopuleran Tenrisannae bersama Fadeli Luran, mendorong Sahibe untuk memperkenankannya tinggal di rumahnya.

Selain bersekolah, Fadeli Luran pun ikut mengaji di Dusun Bamba, dua kilometer dari Bampu. Di sana, ia diajar tajwid oleh Wa’ Baco. Kemampuan Fadeli Luran membaca ayat suci al-Qur’an, ditunjang oleh suaranya yang nyaring melengking. Bahkan, jika Wa’ Bco berhalangan, maka, Fadeli Luran yang mengajar rekan-rekannya. Hamid Aly, seorang di antaranya yang pernah diajar oleh Fadeli Luran.

H Akhmad Sinau, teman sepermainan Fadeli Luran berkisah bahwa anak itu tergolong cerdas. “Di masa kecil ia pandai. Fadeli Luran fasih berbicara dan selalu menjadi pemimpin. Saat masih bocah, saya serta Fadeli Luran sering ikut main bola. Jeruk yang kami jadikan bola. Kami dengan teman-teman main bola di tanah luas di bawah pohon kelapa”.

Asmara Kandas

Sesudah menetap selama dua tahun di rumah Sahibe, Fadeli Luran kemudian ke Maroanging. Sejak itu, sekolah ia tinggalkan setelah duduk di kelas III SD.

Di Maroanging, Fadeli Luran menetap di rumah Ye’ Makka, pamannya. Di kampung tersebut, ia membantu Ye’ Makka yang mandor jalan. Walau hidup di pedalaman tidak dinamis, namun, Fadeli Luran tidak pernah bersikap tercela atau berulah ugal-ugalan. Ia tetap tekun dan tabah. Ini sangat mengesankan Lim Keng Yong. Kepala Dinas Pekerjaan Umum yang keturunan Tionghoa itu, akhirnya mengajak Fadeli Luran untuk tinggal di kediamannya di Bamba.

Ketika menetap di rumah Lim Keng Yong, Fadeli Luran jatuh cinta dengan putri seorang bangsawan. Perjalanan asmara tersebut, putus sesudah orangtua sang gadis keberatan. Atas desakan keluarga ningrat itu, maka, Fadeli Luran akhirnya meninggalkan Bamba.

Wiraswasta

Fadeli Luran kemudian berdagang bahan pokok sehari-hari. Dari Enrekang, ia membawa beras dan jagung untuk dijual di Makassar. Saat balik, ia membawa kain, merica, bawang putih, sabun serta beberapa keperluan dapur. Barang itu kemudian dibeli oleh para penjual eceran di pasar.

Siklus perdagangan dari Enrekang ke Makassar, menempa wawasan Fadeli Luran mengenai dunia wiraswasta. Papa Tensi, pamannya yang jongos Belanda, tempat Fadeli Luran menginap bila ke Makassar, sangat bangga melihat potensi keponakannya.

Fadeli Luran lalu merantau ke Balikpapan untuk mengadu nasib demi pengembangan usaha. Ia ikut dengan Mama Cimba, tantenya untuk mengadu nasib. Dalam kegairahan baru di Balikpapan, Fadeli Luran menjadi polisi. Selain sebagai abdi negara yang setia kepada negara, ia juga berdagang gula merah serta keperluan rumah tangga lainnya. Bahkan, ia pun belajar qasidah dan barzanji.

Figur Fadeli Luran tidak sudi membiarkan ada lowongan yang mubazir. Ia punya setengah karung tips dan trik dalam menakhodai bahtera hidupnya. Ia polisi, pedagang, pegiat seni serta aktif menekuni ilmu agama. Sosoknya merupakan manusia langka yang banyak akal dalam mengarungi terjangan hidup keras di masa penjajahan.

Pada 1940, Fadeli Luran menikah dengan Hatijah. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai Abdul Rahman, Cahyani dan Sultani. Sesudah bercerai, Fadeli Luran menikah dengan Tanri. Dari Tanri, ia memperoleh tiga anak; Ishak, Halifah serta Usman Thamrin. Mahligai rumah tangga mereka akhirnya kandas. (bersambung)

Oleh Abdul Haris Booegies dan Daswar M Rewo

Biosanitizer, Hand Sinitizer Berbahan Alami Berbasis Kearifan Lokal Buatan Santri Pesantren IMMIM

Biosanitizer, Hand Sinitizer Berbahan Alami Berbasis Kearifan Lokal Buatan Santri Pesantren IMMIM

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (11/3/2020) secara resmi mengumumkan virus Corona dari Wuhan atau Covid-19 sebagai pandemik. WHO juga mengingatkan untuk selalu membersihkan tangan secara teratur dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air, atau bila terpaksa dengan antiseptik, sebagai bentuk pencegahan. Di Indonesia sendiri, sudah terdapat 227 kasus pada (18/3/2020), penularan Covid-19 ini drastis cepat.

Demi mencegah penularan virus corona Covid-19, kebanyakan orang selalu sedia hand sanitizer ketika berpergian. Karena, ahli telah menyarankan selalu menjaga kebersihan tangan untuk mencegah penyebaran kuman dan bakteri. Namun hand sanitizer antiseptik jadi habis diborong di pasaran. Fenomena panic buying ini juga membuat harga hand sanitizer meroket.

Melihat persoalan ini, santri binaan TEAM Lab IPA Pesantren IMMIM membagikan informasi mengenai pembuatan hand sanitizer sederhana menggunakan campuran bahan alami serta alkohol guna menanggulangi kekhawatiran dan kelangkaan hand sanitizer di masyarakat.

Biosanitiser merupakan sebutan dari hand sanitizer yang terbuat dari bahan-bahan alami berbasis kearifan lokal yang dibuat oleh santri beserta Guru Pembimbing Ust Rusmadi di Lab IPA Pesantren IMMIM. Adapun komposisinya adalah Ekstrak Citrus Aurantifolia (Jeruk), Cymbopogon Citratus (Daun Serai), Syzgium Polyanthum (Daun Salam), Piper Betle (Daun Sirih), serta Alkohol 70%. Masing-masing ekstrak tumbuhan sebanyak 25 ml untuk 1000 ml Biosanitiser.

Bahan yang digunakan diekstraksi dengan metode MASERASI untuk mendapatkan senyawa yang dibutuhkan dalam pembuatan biosanitiser yang efektif membunuh kuman, bakteri, virus dan mikroorganisme lainnya. Adapun keunggulan dari produk ini adalah sangat instan digunakan dan tidak lengket ditangan. Selain itu biosanitiser ini menghasilkan aroma yang khas sehingga bisa menjadi parfum alami.

Penulis:
Nur Ahmad Syahid, S.T.
Koordinator MAFIKIB Pesantren IMMIM Putra Makassar

KUPTM Kuala Lumpur Kunjungi Pondok Pesantren IMMIM.

Kolej Universiti Poly-Tech MARA (KUPTM) Kuala Lumpur, Malaysia, salah satu lembaga pendidikan tinggi di ibu kota Malaysia.

Agenda kunjungan ke Indonesia, 27 November 2019 melakukan pertemuan pihak Kampus Politeknik Negeri Ujung Pandang dan Kantor Walikota Makassar.

Selanjutnya, 28 November 2019 melakukan pertemuan pihak Kampus Universitas Negeri Makassar dan Pondok Pesantren IMMIM. Salah satu tujuan kunjungan, menjalin sebuah kerjasama.

Pondok Pesantren IMMIM merupakan salah satu tempat agenda yang dikunjungi oleh KUPTM. Ini merupakan buah hasil pertemuan saat IMMIM mengikuti kompetisi sains di Kuala Lumpur Malaysia 1-3 November 2019 lalu.

KUPTM merupakan kampus yang bagus di Ibu kota Malaysia, suasana lingkungan belajar sangat baik, kata Nur Ahmad Syahid, Pembina Tim Sains Pesantren IMMIM yang ikut serta dalam kompetisi tersebut.

Dari pihak KUPTM yang berkunjung ke Pondok Pesantren IMMIM, Rektor Prof. Dr. Darul Ihsan Bin Abdul Hamid bersama Ibu Ts. Dr. Zahrah Binti Yahya Dekan Fakultas Komputer dan Multimedia serta Sakri Bin Abdullah
General Manager Malaysian Institute of Transalation and Books.

Saat berkunjung tamu dari Malaysia itu diterima, Direktur Pesantren IMMIM Dr. H. Mukhlis Mukhtar M.Ag bersama Kepala Sekolah, Sarlin S.Pd. M.Pd.

Salah satu agenda kegiatan saat kunjungan di IMMIM, Diskusi dan Sharing pihak KUPTM bersama Guru-gutu serta Santri-santri Pondok Pesantren IMMIM. Pertemuan bernuansa penuh keakraban. (rls)

Peringati Tahun Baru Islam, IMMIM Putra Gelar Jalan Sehat dan Ziarah Makam Pendiri Ponpes

Peringati Tahun Baru Islam, IMMIM Putra Gelar Jalan Sehat dan Ziarah Makam Pendiri Ponpes

Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 Hijriah, Keluarga Besar Ponpes IMMIM Putra Makassar menggelar jalan sehat, Ahad (1/9).

Acara yang menjadi rutinitas tahunan Pesantren IMMIM ini diikuti oleh ratusan santri dari berbagai tingkatan. Mereka bejalan kaki (long march) mulai dari pesantren IMMIM di Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 10 menuju tempat pemakaman pendiri IMMIM H Fadeli Luran bersama Ibu Hj Rahma Fadeli Luran di Pekuburan Islam Panaikang.

Pembina Pondok Pesantren IMMIM
Ustaz. DR.Nasaruddin mengatakan, tahun baru Hijriah diperingati pada tahun ini dengan mengajak para santri untuk mengunjungi makam pendiri pesantren.

“Kami di Pesantren IMMIM setiap 1 Muharram bersama dengan santri melakukan jalan sehat dari pesantren sampai di pemakaman pendiri IMMIM di Panaikang,” ujarnya.

Tahun baru Islam, lanjutnya, diharapkan agar para santri dapat lebih mengenal sosok pendiri IMMIM itu sendiri.

“Ini kita lakukan supaya para santri dapat mengenang dan lebih mengenal siapa sosok Fadli Luran sebagai pendiri Pesantren IMMIM,” tambahnya.

Selain kegiatan jalan sehat, juga disertai dengan lomba-lomba untuk para santri sebagai bentuk syiar dalam memeriahkan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 H.

Hadiri dalam acara ini ketua Dewan Pembina DPP IMMIM Agh.Muhammad Ahmad, didampingi para Pembina Pesantren IMMIM Putra, memberikan Tauziah di Pemakaman Almaruhun Haji Fadeli Luran sebagai perintis berdirinya Pesantren IMMIM Putra di Tamalanrea dan Pesantren IMMIM Putri di Minasate’ne Pangkep. Di akhir acara dilanjutkan Pembacaan Doa untuk semua yang berjasa dalam Pendirian Pondok

PENGUMUMAN TES KELULUSAN SANTRI BARU SMA PESANTREN MODERN PENDIDIKAN AL-QURÁN IMMIM PUTERA MAKASSAR

PENGUMUMAN TES KELULUSAN SANTRI BARU SMA PESANTREN MODERN PENDIDIKAN AL-QURÁN IMMIM PUTERA MAKASSAR

PENGUMUMAN

BERDASARKAN HASIL RAPAT PENENTUAN KELULUSAN SANTRI BARU
TINGKAT SMA PESANTREN MODERN PENDIDIKAN AL-QURÁN IMMIM PUTERA MAKASSAR
PADA TANGGAL 17 JUNI 2019, MAKA NOMOR TES YANG TERCANTUM DI BAWAH INI, DINYATAKAN

LULUS

DALAM SELEKSI PENERIMAAN SANTRI BARU TAHUN PELAJARAN 2019-2020

001 002 003 004 005 007 009 011 012 013
014 015 018 019 020 021 022 023 024 025
028 030 032 033 035 038 041 044 048 049
050 051 052 054 057 058 060 061 062 063
065 066 067 068 071 072 073 075 077 078

KEPUTUSAN INI BERLAKU MUTLAK DAN TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT

Ditetapkan di   : Makassar
Pada Tanggal  : 17 Juni 2019 M/ 13 Syawal 1440 H

Ketua Panitia,

 

 Dr. Nasaruddin M.Ag.

CATATAN :

  1. PENDAFTARAN ULANG DIMULAI PADA TANGGAL 18 JUNI 2019 S/D 12 JULI 2019 DI AULA KAMPUS I TAMALANREA MAKASSAR.
  2. BAGI SANTRI BARU YANG TELAH MENYELESAIKAN PEMBAYARAN SESUAI JUMLAH YANG TELAH DITENTUKAN, MAKA BERHAK MEMILIH ASRAMA DAN TEMPAT TIDUR.
  3. PEMBAYARAN DAPAT DILAKUKAN MELALUI LOKET PEMBAYARAN DI KAMPUS I TAMALANREA (TEMPAT TES) MAKASSAR ATAU TRANSFER KE NOMOR REKENING BRI 341901000002301  a.n. YAYASAN DANA ISLAMIC CENTRE. JIKA SUDAH MELAKUKAN PEMBAYARAN / TRANSFER  MOHON KONFIRMASI KE NOMOR HP/WA 085299331219 (NANI BURAERAH S.Ag) DAN 085399795875 (HJ. ROSMIATI BURHAN S.E.)
  4. SEMUA SANTRI BARU DIHARUSKAN MASUK DI KAMPUS I TAMALANREA MAKASSAR PADA  TANGGAL 13 JULI 2019.

 

BLANKO PENDAFTARAN ULANG SANTRI BARU SMA PESANTREN IMMIM PUTRA MAKASSAR
TAHUN PELAJARAN 2019/2020

BLANKO DAPAT DI AMBIL DI KANTOR INFORMASI PESANTREN IMMIM MAKASSAR. SANGAT PENTING UNTUK MELENGKAPI SEBELUM TANGGAL 12 JULI 2019